Arsitektur Masjid Baiturrahman

Arsitektur Masjid Baiturrahman  Di ujung pulau Sumatera, masjid yang kokoh dan indah telah berdiri sejak ratusan tahun yang lalu. Karya dari arsitektur kenamaan Belanda dengan gaya campuran itu menjadikan masjid Baiturrahman salah satu masjid terindah di dunia. Masjid tersebut dibangun kembali setelah dibakar akibat perkelahian antara Hindia Belanda dengan masyarakat Aceh.

Renovasi dan arsitekurnya diprakasai oleh arsitek Gerrit Bruins pada tanggal 9 Oktober 1879 atas perintah pemerintahan Hindia Belanda. Gerrit Bruins dari van Vurgelijke Openbare Werken dari Departemen Batavia tidak bekerja sendiri. Perencanaan desain juga dibantu oleh seorang letnan dari China bernama Lie A Sie. Dia bertindak sebagai kontraktor dalam pembangunan tersebut.

Pembangunan kembali masjid tersebut diperkirakan menelan biaya sekitar 203 ribu gulden. Pendanaan sebagian besar berasal dari bahan bangunan yang didatangkan dari berbagai daerah. Beberapa material yang dikenal adalah marmer dari China, jendela besi dari Belgia, kayu dari Myanmar dan pilar dari Surabaya. Selain beberapa lainnya yang berasal dari Pulau Penang.

Mengutip J Eksplorasi Ujung Barat Indonesia oleh Muna Sungkar, masjid yang baru dibangun kembali pada awal abad ke-19 ini menganut gaya eklektik. Dimana, merupakan gabungan elemen dari berbagai negara. Khususnya, Eropa dan India (gaya Moghul).

Jika Anda melihat lebih jauh, ada ciri-ciri yang sangat mencolok dari masjid-masjid pra-kolonial. Yang pertama berbentuk bujur sangkar dan dikelilingi tembok dan atap bertingkat. Atap bertingkat menunjukkan pengaruh Hindu. Sedangkan karakter masjid lebih mirip dengan pura di Bali dibandingkan masjid di Timur Tengah.

Namun, terdapat kemiripan dengan masjid tua di masa lalu, yang konstruksinya dibuat dengan menggunakan kayu. Meski akhirnya, kini material tersebut berubah menjadi beton.

Di Aceh, 50 persen bentuk atap masjid masih mempertahankan model atap limas. Selebihnya, sesuaikan gaya kubah sesuai dengan Masjid Raya Baiturrahman di bagian atas.nSeiring berjalannya waktu, Masjid Baiturrahman juga diperluas, khususnya pada tahun 1935. Masjid tersebut diperluas dengan penambahan dua kubah di sisi kiri dan kanan sehingga menjadi tiga kubah.

Tidak berhenti sampai disitu, setelah berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia, pemerintah Indonesia juga menaruh perhatian yang besar terhadap masjid Baiturrahman. Padahal, pada 31 Oktober 1957 masjid itu kembali diperluas, ditambah kubah dengan dua di belakang. Pembangunannya selesai pada tahun 1967.

Selain Masjid Baiturrahman, banyak juga masjid-masjid di Indonesia yang megah dan menawan. Tetapi perlu diketahui bahwa masih banyak juga masjid-masjid di Indonesia yang memerlukan perhatian dari kita karena tidak layak maupun yang didaerahnya tidak terdapat masjid untuk beribadah bersama, kita bisa membantu meringankan beban mereka dengan cara menyisihkan rezeki kita untuk pembangunan masjid-masjid di daerah terpencil melalui yayasan masjid pedesaan yang membantu kita mengumpulkan dana untuk langung membantu saudara kita didaerah terpencil di Indonesia.